Askep Hernia

Sebuah kesempatan yang sangat berarti bagi saya seorang perawat karena sempat berbagi dengan kalian sesama perawat di seluruh tanah air dan juga mahasiswa keperawatan yang sedang mencari contoh askep hernia dengan legkap.

Oleh karena itu di sini saya telah menulis Asuhan keperawatan Hernia dengan lengkap sebagai referensi materi untuk merawat pasien atau klien dengan diagnosa hernia, baik sebelum operasi atau di singkat dengan pre operasi dan post operasi hernia.
laporan pendahuluan askep hernia
Ilustrasi penyakit Hernia


Dalam artikel ini, sudah saya tuliskan secara lengkap materi askep dan LP Hernia, dan Sebelum anda membacanya hingga akhir artikel, berikut daftar isi artikel LP askep Hernia yang sedang anda baca sekarang ini :

  • Laporan Pendahuluan Hernia Dan Gambaran Umum Hernia 
  • Pengertian Hernia,
  • Etiologi Hernia,
  • Klasifikasi Hernia
  • Patofisiologi Hernia
  • Manifestasi Klinis Hernia
  • Penatalaksanaan Hernia
  • Komplikasi Hernia
  • Pemeriksaan Penunjang Hernia
  • Askep Kasus Pada Tn. U DenganHernia
  • Daftar Pustaka Lp Askep Hernia

A---- Pendahuluan


# Latar Belakang

Hernia merupakan penyakit yang sering ditemukan dimasyarakat. Penyakit ini ditandai dengan adanya penonjolan isi perut melalui bagian dinding perut yang lemah, kelainan ini terutama ditemukan di daerah lipat paha. Hernia bisa terjadi disemua umur, juga banyak pada usia produkif, sehingga mempunyai dampak sosial ekonomi yang cukup signifikan, oleh karena itu penanganan penyakit hernia yang efektif dan efisien sangat diperlukan. Sebagian besar hernia timbul di regio inguinalis dengan sekitar 50 persen dari ini merupakan hernia inguinalis indirek dan 25 persen sebagai herniainguinalis direk. Insiden hernia meningkat dengan bertambahnya umur  (Hariana, 2012).

Hernia inguinalis merupakan hernia yang lebih banyak diderita oleh laki-laki daripada perempuan. Hal ini dikarenakan pada laki-laki dalam waktu perkembangan janin terjadi penurunan testis dari rongga perut. Jika saluran testis tidak menutup dengan sempurna, maka akan menjadi jalan lewatnya hernia inguinalis (Sukadiono, 2012).

Disebutkan bahwa 1 dari 544 orang yaitu sekitar 0,18% mengalami hernia inguinalis lateral. Meskipun terbilang angka insiden ini rendah tetapi masalah ini bisa menjadi besar dikarenakan hernia ini dapat menjadi kondisi kegawatan yang mengancam nyawa apabila organ perut yang masuk ke kantong hernia tidak dapat kembali ke posisi awal dan terjepit sehingga menimbulkan nyeri dan kerusakan organ tersebut (Sukadiono, 2012).

Insiden hernia yang terjadi di Amerika Serikat pada tahun 2007 sekitar 700.000 operasi hernia yang dilakukan tiap tahunnya. Indirek inguinalis hernia di sisi kanan, adalah tipe hernia yang paling banyak dijumpai pria dan wanita, sekitar 25% pria dan 2% wanita mengalami hernia inguinalis. Sedangkanhernia femoralis hanya dijumpai pada 3% kasus (Hariana, 2012).

Hernia banyak diderita oleh masyarakat ekonomi menengah ke bawah khususnya pekerja berat, kemudian pada orang yang rutin melakukan olahraga beban, selain itu, kebiasaan seseorang yang selalu mengejan saat buang air, bahkan pada orang yang mengalami batuk kronis, serta pada lanjut usia. Data dari negara-negara berkembang terbatas maka prevalensi dan insiden yang tepat tidak diketahui. Jenis dan distribusi anatomi Hernia diyakini mirip dengan negara-negara maju. Secara umum sebagian besar hernia terjadi pada pangkal paha pada orang dewasa (Pramudiarja, 2012).

Badan penelitian kesehatan dunia WHO mengadakan tinjauan terhadap prevalensi hernia inguinalis yang timbul dalam sekitar 3% persen populasi penduduk, khususnya di Amerika Serikat, dan 537.000 hernia inguinalis diperbaiki dengan pembedahan pada tahun 2000. Sebagian besar hernia timbul dalam region inguinalis direk. Hernia insisional merupakan sekitar 10 persen dari semua hernia, hernia femoralis sekitar 5 persen dan hernia umbilikalis 3 persen, hernia yang timbul jika pada masa lalu kekambuhan pasca bedah merupakan masalah, sekarang hal ini sudah jarang terjadi, dengan perkecualian hernia berulang hernia besar yang memerlukan penggunaan materi prosthesis (Wisma, Y. 2011).

Berdasarkan survei Departemen Kesehatan RI (Depkes) tahun 2005, pasien hernia yang harus menjalani pembedahan hernia inguinalis di Indonesia sebanyak 26,3%. Angka tersebut menunjukkan prevalensi hernia di Indonesia cukup tinggi.  (Wisma, Y. 2011).

Potensial komplikasi yang dapat terjadi pada hernia yaitu terjadi perlengketan antara isi hernia dengan dinding kantong hernia sehingga isi hernia tidak dapat dimasukkan kembali. Terjadi penekanan terhadap cincin hernia, akibat semakin banyaknya usus yang masuk, cincin hernia semakin sempit dan menimbulkan gangguan penyaluran isi usus (Hariana, 2012).

Berdasarkan uraian diatas maka penulis tertarik untuk menyusun karya tulis ilmiah ini dengan judul “Asuhan Keperawatan Pada klien dengan Hernia Inguinalis di ruang perawatan Bedah Pria.

B---- Pembahasan Tinjauan Teoritis Hernia


#1.Pengertian

Menurut Tambayong (2000. Hal 140) Hernia adalah defek dalam dinding abdomen yang memungkinkan isi abdomen (seperti peritonium, lemak, usus atau kandung kemih) memasuki defek tersebut, sehingga timbul kantong berisikan materi abnormal.

Hernia inguinalis adalah prolaps sebagian usus kedalam annulus inguinalis diatas kantong skrotum yang disebabkan oleh kelemahan atau kegagalan menutup congenital (Cecily, 2009. Hal 230). Dan Grace (2007. Hal 119) menyatakan bahwa hernia merupakan penonjolan viskus atau sebagian dari viskus melalui celah yang abnormal pada selubungnya.

Hernia adalah prostrusi (tonjolan) abnormal suatu organ, atau bagian organ, melewati celah di strktur sekitarnya – umumnya prostusi organ abdomen melalui di dinding abdomen (Brooker, 2008. Hal. 187).

Menurut Grace (2007. Hal 119) menyatakan bahwa hernia merupakan penonjolan viskus atau sebagian dari viskus melalui celah yang abnormal pada selubungnya.

#2 Etiologi

Terdapat 2 (dua) penyebab  terjadi nya hernia yaitu : Defek  dinding  otot  abdomen: Hal ini dapat terjadi sejak lahir ( congenital ) atau didapat seperti karena usia, keturunan, akibat dari pembedahan sebelumnya. Peningkatan tekanan intraabdominal: Penyakit paru obtruksi menahun ( batuk kronik ), obesitas, adanya Benigna Prostat Hipertropi ( BPH ), sembelit, mengejan saat defekasi dan berkemih, mengangkat beban terlalu berat dapat meningkatkan tekanan intraabdominal  (Suratun  2010 . hal 318).

#3. Klasifikasi

Menurut Suratun (2010. Hal 316) klasifikasi pada penderita hernia dapat di bagi atas beberapa kategori  hernia yaitu :
a.    Hernia Inguinal dibagi menjadi :
1>> Hernia indirek atau lateral : hernia ini terjadi melalui cincin inguinal dan melewati korda spermatikus melalui kanalis inguinalis, dapat menjadi sangat besar dan sering turun ke skrotum. Umumnya terjadi pada pria,. Benjolan tersebut bisa mengecil, menghilang pada waktu tidur dan bila menangis, mengejan, mengangkat benda berat atau berdiri dapat tumbuh kembali.

2>> Hernia diarek atau medialis : hernia ini melewati dinding abdomen di area kelemahan otot, tidak melalui kanal seperti pada hernia inguinalis dan femoralis indirek. Lebih umum terjadi pada lansia. Hernia ini di sebut direkta karena langsung menuju anulus inguinalis eksterna sehinga meskipun arteri inguinalis internal ditekan bila klien berdiri ataupun mengejan, tetap akan timbul bejolan,. Pada klien terlihat adanya massa bundar pada arteri inguinalis eksterna yang mudah mengecil bila klien tidur. Karena besarnya defek pada dindung posterior maka hernia ini jarang menjadi irreponible.

b.    Hernia femoralis
Hernia femoralis terjadi melalui cincin femoral dan lebih umum pada wanita. Ini mulai sebagai penyumbat lemak di kanalis femoral yang membesar dan secara bertahap menarik peritoneum dan hamper tidak dapat menghindari kandung kemih masuk kedalam kantong.

c.    Hernia umbilical
Hernia umbilikal pada umumnya terjadi pada wanita karena peningkatan tekanan abdominal, biasanya pada klien obesitas dan multipara.

d.   Hernia insisional
Hernia insisional terjadi pada insisi bedah sebelumnya yang telah sembuh secara tidak adekuat, gangguan penyembuhan luka kemungkinan disebabkan oleh infeksi, nutrisi tidak adekuat, distensi ekstrem atau obesitas. Usus atau organ lain menonjol.

#4. Patofisiologi

Menurut Pierce, (2007. Hal. 119) Patofisiologi pada pasien dengan hernia adalah Defek pada dinding abdomen dapat congenital misalnya hernia umbilikalis, kanalis femoralis) atau didapat (misalnya akibat suatu insisi) dan dibatasi oleh peritoneum (kantung), peningkatan tekanan intraabdomen lebih lanjut membuat defek semakin lemah dan menyebabkan beberapa isi intraabdomen  misalnya; omentum, lengkung usus halus), keluar melalui celah tersebut. Isi usus yang terjebak didalam kantung menyebabkan inkarserasi (ketidak mampuan untuk mengurangi isi) dan kemungkinan strangulasi (terhambatnya aliran darah kedaerah yang mengalami inkarserasi).

#5. Manifestasi Klinis

Manifestasi klinis pada penderita hernia yaitu; Rasa tidak enak yang ditimbulkan oleh hernia selalu menburuk di senja hari dan menbaik pada malam hari, saat pasien berbaring bersandar dan hernia berkurang. Nyeri lipat paha tanpa hernia yang dapat terlihat, biasanya tidak mengindikasikan atau menunjukkan mula timbulnya hernia. Kebanyakan hernia berkembang secara diam – diam, tetapi beberapa yang lain dicetuskan oleh peristiwa muscular tunggal yang sepenuh tenaga. Secara khas, kantung hernia dengan isinya menbesar dan mengirimkan impuls yang dapat teraba jika pasien mengedan atau batuk. Biasanya pasien harus berdiri saat pemeriksaan, karena tidak mungkin meraba suatu hernia lipat paha yang bereduksi pada saat pasien berbaring. Hidrokel bertransiluminasi, tetapi hernia tidak, hernia yang tidak dapat dideteksi oleh pemeriksaan fisik, dapat terlihat dengan ultrasonografi komputer. Strangulasi menimbulkan nyeri hebat dalam hrnia yang diikuti dengan cepat oleh nyeri tekan, obstruksi interna, dan tanda atau gejala sepsis. Reduksi dari hernia strangulasi adalah kontraindikasi jika ada sepsis atau isi dari sakus yang mengalami gangrenosa (Seymour, S, 2000. Hal. 509).

#6. Penatalaksanaan

Penatalakasanaan pada penderita hernia meliputi; Nilai hernia untuk : keparahan gejala, resiko komplikasi ( tipe,ukuran leher hernia ), kemudahan untuk perbaikan ( lokasi, ukuran ), kemungkinan berhasil ( ukuran, banyakya isi perut kanan yang hilang). Nilai pasien untuk : kelayakan operasi, pengaruh hernia terhadap gaya hidup ( pekerjaan dan hobi ). Perbaikan dengan bedah biasanya ditawarkan pada pasien – pasien dengan: hernia dengan riseko komplikasi apapun gejalanya. hernia dengan adanya gejala – gejala obstruksi sebelumnya. hernia dengan risiko komplikasi yang rendah namun dengan gejala yang mengganggu gaya hidup dan sebagainya (Pierce, 2007. Hal. 119).

#7. Komplikasi

Komplikasi yang dapat terjadi pada penderita hernia ialah: Hematoma ( luka atau pada skrotum ), Retensi urin akut. Infeksi pada luka. Nyeri kronis. Nyeri dan pembengkakan testis yang menyebabkan atrofitestis. Rekurensi hernia (Pierce,2007. Hal. 119).

#8. Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan penunjang pada penderita hernia dapat dilakukan dengan cara berikut:  Pemeriksaan darah lengkap : menunjukkan peningkatan sel darah putih, serum elektrolit dapat menunjukkan hemokonsentrasi ( peningkatan hematokkrit ), dan ketidakseimbangan elektrolit. Pemeriksaan koagulasi darah : mungkin memanjang, mempengaruhi homeostatis intra operasi atau post oprasi. Pemeriksaan urine; Munculnya sel darah merah atau bakteri yang mengindikasikan infeksi. Elektro kardiografi (EKG) Penemuan akan sesuatu yang tidak normal menberikan prioritas perhatian untuk menberikan anestesi. Sinar X abdomen menunjukkan abnormal kadar gas dalam usus / obtruksi usus (Suratun,2010. Hal. 321).

C---- Teori Asuhan Keperawatan Pada Hernia

Menurut Doengoes, (2000. Hal 901), pengkajian, diagnosa keperawatan dan perencanaan pada pasien dengan post operasi hernia adalah sebagai berikut :
1.    Pengkajian
Sirkulasi:  
Gejala : Riwayat masalah jantung, GJK, edema pulmonal, penyakit vaskuler perifer, atau stasis vaskuler.
Integritas Ego:
Gejala : perasaan cemas, takut, marah, apati. Factor-faktor stress multiple, misalnya financial, hubungan, gaya hidup. Tanda : tidak dapat beristirahat ketegangan/peka rangsang. Stimulasi simpatis.
Makanan/Cairan:
Gejala : infusiensi pancreas/DM (predisposisi untuk hipoglikemia/ketoasidosi). Malnutrisi. Membrane mukosa yang kering.
Pernapasan :
Gejala : infeksi, kondisi yang kronis/batuk, merokok.
Keamanan:
Gejala : alergi atau sensitive terhadap obat, makanan, plester, dan larutan. Defisiensi imun. Munculnya kanker/terapi kanker terbaru. Riwayat keluarga tentang hipertermia malignan/reaksi anestesi. Riwayat penyakit hepatic. Riwayat transfuis darah/reaksi transfuse. Tanda : munculnya proses infeksi yang melelahkan, demam.
Penyuluhan/Pembelajaran:
Gejala : Penggunaan antikoagulasi, steroid, antibiotic, antihipertensi, kardiotonik glikosid, antidisritmia. Bronkodilator, diuretic, dekongestan, analgesic, antiinflamasi, antikonvulsan atau tranquilizer dan juga obat yang dijual bebas, atau obat-obatan rekreasional. Penggunaan alcohol.
Pemeriksaan Diagnostik:
Kebutuhan praoperasi general mungkin meliputi : Urinalisis, JDL, PT, PTT, sinar x dada. Studi-studi lainnya bergantung pada tipe prosedur operasi dan medikasi saat ini. Urinalisis : Munculnya SDM atau bakteri yang mengindikasikan infeksi. Tes kehamilan : hasil positif akan mempengaruhi waktu prosedur dan pilihan zat-zat farmakologis. JDL : peningkatan JDL adalah indikasi dari proses inflamasi, penurunan JDL dapat mengarah kepada proses-proses viral. Elektrolit : Ketidakseimbangan akan mengganggu fungsi organ. GDA : Mengevaluasi status pernapasan terakhir.
Priorotas Keperawatan:
Mengurangi ansietas dan trauma emosianal, menyediakan keamanan fisik, mencegah komplikasi, meredakan rasa sakit, memberikan fasilitas untuk proses kesembuhan, menyediakan informasi mengenai proses penyakit/prosedur pembedahan, prognosis dan kebutuhan pengobatan.
Tujuan Pemulangan:
Pasien menghadapi situasi ada secara realities. Cedera dicegah. Komplikasi dicegah/diminimalkan. Rasa sakit dihilangkan/dikontrol. Luka sembuh/fungsi organ berkembang ke arah normal. Proses penyakit/prosedur pembedahan, prognosis, dan regimen terapetik dipahami.

2.    Diagnosa keperawatan:
a.              Kurang pengetahuan mengenai kondisi, prognosis, dan kebutuhan pengobatan berhubungan dengan kurangnya pemajanan/mengingat, salah interpretasi informasi.
b.             Ketakutan/Anseitas berhubungan dengan Krisis situasional, ketidakakraban dengan lingkungan.
c.              Resiko tinggi terhadap cedera berhubungan dengan kondisi interaktif diantara individu dan lingkungan.
d.             Resiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan trauma jaringan.
e.              Resiko tinggi terhadap perubahan suhu tubuh berhubungan dengan pemajanan lingkungan.
f.              Takefektif pola nafas berhubungan dengan peningkatan ekspansi paru.
g.             Perubahan persepsi berhubungan dengan stress fisiologis.
h.             Resiko tinggi terhadap kekurangan volume cairan berhubungan dengan pembatasan pemasukan cairan secara oral, hilangnya cairan tubuh secara tidak normal
i.               Nyeri akut berhubungan dengan gangguan pada kulit, jaringan dan itegritas otot, musculoskeletal.
j.               Kerusakan integritas jaringan kulit berhubungan dengan interupsi mekanis pada kulit/jaringan.

3.    Intervensi
a.    Kurang pengetahuan mengenai kondisi, prognosis, dan kebutuhan pengobatan berhubungan dengan kurangnya pemajanan/mengingat, salah interpretasi informasi. Tujuan : Mengutarakan pemahaman proses penyakit/proses praoperasi dan harapan pasca operasi. Kriteri Hasil : Melakukan prosedur yang diperlukan dan menjelaskan alasan dari suatu tindakan. Memulai perubahan gaya hidup yang diperlukan dan ikut serta dalam regimen perawatan.
1)                 Kaji tingkat pemahaman klien. Rasional : berikan fasilitas perencanaan program pengajaran pascaoperasi.
2)                 Tinjau ulang patologi khusus dan antisipasi prosedur pembedahan. Rasional : sediakan pengetahuan berdasarkan hal dimana pasien dapat membuat pilihan terapi berdasarkan infomasi dan setuju untuk mengikuti prosedur.
3)                 Gunakan sumber-sumber bahan pengajaran, audiovisual sesuai keadaan. Rasional : bahan yang dibuat secara khusus akan dapat memenuhi kebutuhan untuk belajar.
4)                 Melaksanakan program pengajaran praoperasi individual. Rasional : meningkatkan pemahaman/control pasien dan memungkinkan partisipasi dalam perawatan pascaoperasi.
5)                 Sediakan kesempatan untuk melatih batuk, napas dalam, dan latihan otot. Rasional : meningkatkan pengajaran dan aktivitas pascaoperasi.

b.    Ketakutan/Anseitas berhubungan dengan Krisis situasional, ketidakakraban dengan lingkungan. Tujuan : Menunjukkan perasaan dan mengidentifikasi cara yang sehat dalam berhadapan dengan mereka. Kriteria Hasil : tampil santai, dapat beristirahat/tidur cukup. Melaporkan penurunan rasa takut dan cemas yang berkurang ke tingkat yang dapat dan cemas yang berkurang ke tingkat yang dapat diatasi.
1)                      Sediakan waktu kunjungan oleh personel kamar operasi sebelum pembedahan jika memungkinkan. Rasional : dapat menjamin meredakan keresahan pasien, dan juga menyediakan informasi untuk perawatan intraoperasi formulatif.
2)                      Informasikan pasien/orang terdekat tentang peran advokat perawat intraoperasi. Rasional : kembangkan rasa percaya/hubungan, turunkan rasa takut akan kehilangan control pada lingkungan yang asing.
3)                      Identifikasi tingkat rasa takut yang mengharuskan dilkukannya penundaan prosedur pembedahan. Rasional : rasa takut yang belebihan atau terus menerus akan mengakibatkan reaksi stress yang berlebihan.
4)                      Validasi sumber rasa takut. Rasional : mengidentifikasi rasa takut yang spesifik akan membantu pasien untuk menghadapinya secara realistis.
5)                      Catat ekspresi yang berbahaya/perasaan tidak tertolong, preokupasi dengan antisipasi perubahan/kehilangan perasaan tercekik. Rasional : pasien mungkin telah berduka terhadap kehilangan yang ditunjukan dengan antisipasi prosedur pembedahan.
6)                      Beritahu pasien kemungkinan dilakukannya anestesi local atau spinal dimana rasa pusing atau mengantuk mungkin saja terjadi. Rasional : mengurangi ansietas/ rasa takut bahwa pasien mungkin melihat prosedur.
7)                      Perkenalkan staf pada waktu pergantian ke ruang operasi. Rasional : Menciptakan hubungan dan kenyaman psikologis.
8)                      Kolaborasi Rujuk pada perawatan oleh rohaniawan/spiritual, spesialis klinis perawat psikiatri. Rasional : Konseling professional mungkin dibutuhkan pasien untuk mengatasi rasa takut.

c.    Resiko tinggi terhadap cedera berhubungan dengan kondisi interaktif diantara individu dan lingkungan. Tujuan : Mengidentifikasi factor-faktor risiko individu. Kriteria Hasil : Memodifikasi lingkungan sesuai petunjuk untuk meningkatkan keamanan dan menggunakan sumber-sumber secara tepat.
1)                      Lepaskan gigi palsu atau kawat gigi sesuai protocol praoperasi. Rasional : Benda asing dalam tubuh dapat teraspirasi selama intubasi/ekstubasi selang endotrakea.
2)                      Singkirkan alat bantu pada praoperasi atau setelah induksi. Rasional : Lensa kontak dapat menyebabkan abrasi kornea pada waktu pasien berada dalam anestesi.
3)                      Lepaskan perhiasan pada masa praoperasi. Rasional : benda-benda yang terbuat dari logam akan berkonduksi dengan alat-alat elektrik dan membahayakan tubuh terhadap pemakaian elektrokauter.
4)                      Periksa identitas pasien dan jadwalkan prosedur operasi dengan membandingkan grafik pasien. Rasional : memastikan pasien dan prosedur yang tepat. 

d.   Resiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan trauma jaringan. Tujuan : Mengidentifikasi factor-faktor risiko individual intervensi untukmengurangi potensial infeksi. Kriteria Hasil : Pertahankan lingkungan aseptic yang aman.
1)                      Tetap pada fasilitas control infeksi, sterilisasi dan prosedur/kebijakan aseptic. Rasional : Tetapkan mekanisme dirancang untuk mencegah infeksi.
2)                      Ulangi studi laboratorium untuk kemungkinan infeksi sistemik. Rasional : Peningkatan SDP akan mengindikasikan infeksi dimana prosedur operasi akan mengurangi.
3)                      Uji bahwa kulit praoerasi. Rasional : pembersihan akan mengurangi jumlah bakteri pada kulit. Siapkan lokasi operasi.
4)                      Minimalkan jumlah bakteri pada lokasi operasi. Identifikasi gangguan pada tehnik aseptic dan atasi dengan segera pada waktu terjadi. Rasional : kontaminasi dengan lingkungan/kontak personal akan menyebabkan daerah yang sterilmenjadi tidak steril.

e.    Resiko tinggi terhadap perubahan suhu tubuh berhubungan dengan pemajanan lingkungan. Tujuan : Pertahankan suhu tubuh dalam jangkauan normal.
1)                      Catat suhu praoperasi. Rasional : Digunakan sebagai dasar untuk memantau suhu intraoperasi.
2)                      Kaji suhu lingkungan dan modifikasi sesuai kebutuhan. Rasional : dapat membantu dalam mempertahankan/menstabilkan suhu pasien.
3)                      Sediakan pengukuran pendingin pada pasien dengan elevasi suhu praoperasi. Rasional : irigasi pendingin dan pemajanan permukaan kulit ke udara.
4)                      Catat elevasi suhu yang cepat. Rasional : Hipertermia maligna harus dkenali dan diobati.
5)                      Sediakan selimut penghangat pada saat-saat darurat untuk anestesi. Rasional : Anestesi inhalasi akan menekan hipotalamus.
6)                      Kolaborasi  Pantau suhu melalui fase intra operasi. Rasional : penghangatan pendinginan terus menerus yang melembabkan inhalasi.

f.     Takefektif pola nafas berhubungan dengan peningkatan ekspansi paru. Tujuan : Perubahan pada frekuensi dan kedalaman pernapasan, pengurangan kapasitas vital. Kriteria Hasil : Menetapkan pola napas yang normal/efektif dari bebas sianosis atau tanda-tanda hiposia lainnya.
1)                      Pertahankan jalan udara pasien. Rasional : mencegah obstruksi jalan nafas.
2)                      Auskultasi suara pernapasan. Rasional : kurangnya suara napas adalah indikasi adanya obstruksi oleh mucus atau lidah.
3)                      Observasi frekuensi dan kedalaman pernapasan. Rasional : dilakukan untuk memastikan efektifitas pernapasan.
4)                      Letakkan pasien pada posisi yang sesuai. Rasional : elevasi kepala dan posisi miring akan mencegah terjadinya aspirasi.
5)                      Observasi pengembalian fungsi otot. Rasional : setelah pemberian obat-obat selama masa intraoperatif.
6)                      Lakukan latihan nafas gerak. Rasional : ventilasi dalam aktif membuka alveolus.
7)                      Kolaborasi Berikan tambahan oksigen sesuai diperlukan. Rasional : Dilakukan untuk meningkatkan atau memaksimalkan pengambilan oksigen.

g.    Perubahan persepsi berhubungan dengan stress fisiologis. Tujuan : meningkatkan tingkat kesadaran. Kriteria Hasil : Mengenali keterbatasan diri dan mencari sumber bantuan sesuai kebutuhan.
1)                      Orientasi kembali pasien secara terus menerus. Rasional : karena pasien telah meningkat kesadarannya.
2)                      Bicara pada pasien dengan jelas. Rasional : tidak dapat ditentukan kapan pasien akan sadar penuh.
3)                      Evaluasi sensasi. Rasional : pengenbalian fungsi setelah dilakukan blok spinal.
4)                      Gunakan bantlan pada tepi tempat tidur. Rasional : berikan keamanan pada pasien selama tahap darurat.
5)                      Periksa aliran infuse. Rasional : pada pasien yang mengalami disorientasi, mungkin mencegah terjadinya cedera.


B---- PEMBAHASAN TINJAUAN KASUS PADA PASIEN HERNIA
Dalam bab ini penulis menyajikan proses keperawatan pada klien Tn. U dengan Post operasi hernia inguinalis yang dirawat di Ruang Bedah Pria. Dalam tinjauan kasus ini, penulis akan menguraikan tentang asuhan keperawatan yang dilakukan terhadap klien Tn. U dengan post operasi hernia selama tiga hari  melalui pendekatan proses keperawatan.

A.  Pengkajian
1.      Identitas Klien
Nama Tn. U, Tempat tinggal Ds Ujoeng Reuba, umur 65 tahun, Suku Aceh, Pekerjaan Tani, Bahasa utama Aceh, sumber data klien dan keluarga, jam pencatatan 13.00 Wib.
Keluarga yang bertanggung jawab : Tn Z, hubungan dengan klien anak kandung, umur 22 tahun, jenis kelamin laki-laki, Pekerjaan Wiraswasta.

2.      Data riwayat masuk
Klien masuk rumah sakit tanggal 06 Juli  2013 datang dengan rujukan dari Puskesmas melalui IGD yang dibawa oleh keluarganya dengan mobil ambulan dari Puskesmas Meurah Mulia dan indikasi dari petugas IGD untuk di  Opname di ruang Bedah Pria dan kemudian menjalani tindakan operatif, Observasi pada saat tiba di IGD klien dengan berat badan : 50 kg, tinggi badan 155 cm, tanda tanda vital: Tekanan darah : 120/80 mmHg, Polse : 82x/menit, Respirasi rate 26x/menit, Temperatur : 37,90C.

3.      Keluhan Utama
Klien mengatakan nyeri pada luka post operasi, dengan skala nyeri 6 (nyeri sedang), wajah klien tampak meringis menahan rasa nyeri.

4.      Alergi dan reaksi
Klien mengatakan tidak ada alergi dengan makanan maupun obat-obatan yang pernah diminum atau dimakan.

5.      Obat/pengobatan
Sebelumnya klien sudah berobat di puskesmas namun dokter menyarankan agar dioperasi, maka tanggal 06 Juli  2013 klien masuk kerumah sakit umum daerah Cut Mutia Kabupaten Aceh Utara dan tanggal 07 Juli dilakukan operasi. 

6.      Riwayat penyakit
Klien mengatakan sebelumnya ia belum pernah menderita penyakit yang serius, hanya saja mengalami demam biasa dengan disertai pilek pada saat musim hujan dan sembuh setelah klien mengkonsumsi obat yang dijual bebas, dan ini merupakan kali pertama klien harus di rawat di rumah sakit dan klien mengatakan merasa kurang nyaman berada dirumah sakit, karena sebelumnya ia belum pernah dirawat dirumah sakit.

Klien mengatakan sebelumnya tidak pernah ada anggota keluarga yang menderita riwayat penyakit hernia seperti klien.
7.      Alat perlengkapan/bantuan yang digunakan special
Klien tidak menggunakan alat bantu seperti kursi roda, kaca mata, gigi palsu, lensa kontak, alat bantu dengar dan lain-lain.

8.      Riwayat psikososial
Sehubungan dengan penyakitnya klien mengatakan cemas dengan keadaannya dan bertanya apakah kondisi akan cepat membaik setelah operasi, klien tampak gelisah dan sering menanyakan kapan klien boleh pulang. Namun demikian klien menganggap ini sudah kehendak maha kuasa, mekanisme koping klien dengan selalu berdoa agar cepat sembuh dan klien memiliki support system dari keluarga terutama dari istri klien, mendukung dan memberi motivasi pada klien agar cepat sembuh agar klien tidak merasa cemas, klien tidak mengkonsumsi alkohol dan NAPZA, karena klien beragama islam dan itu merupakan pantangan dari agama.

9.      Neurologis
Orientasi : Selama dirawat di rumah sakit  klien tampak bingung dan klien tampak sering bertanya-tanya tentang riwayat penyakit pada perawat dan siswa, walau demikian klien masih mampu mengenal orang-orang di sekeliling dan keluarganya maupun perawat, beserta orang yang datang mengunjunginya dan klien mengetahui dimana ia dirawat. Klien mengetahui Pergantian siang dan malam, klien kelihatan sedikit tenang terhadap tindakan yang diberikan oleh perawat dan dokter. Kesadaran : Compos mentis (sadar), pupil : isokor, ada reaksi (simetris kiri dengan baik), kekuatan ekstremitas : sama 1. Bicara jelas (klien bisa berkomunikasi dengan baik), sensori : klien mengatakan merasa kebas pada luka tempat operasi dan tampak sering memegang pada daerah luka operasi, kesemutan, persepsi : penglihatan jelas baik mata kiri maupun mata kanan, pendengaran masih dapat mendengar dengan jelas baik telinga maupun telinga kanan.

10.  Respirasi
Pola nafas : nafas datar dan tetap, dengan frekuensi pernafasan 26x/menit suara pernafasan bersih, taktil fremitus normal, sekresi dan batuk tidak ada.

11.  Kardiovaskuler
Pols : Apical Rate 82x/menit, regular (teratur) dengan nadi radial tangan kiri 84x/menit, pada palpasi didapatkan tidak adanya oedema pada perifer (jari tangan) dan perfusi kulit tampak kering.

12.  Gastrointestinal
Mukosa mulut : kering, suara usus : normal (5x/menit), kemampuan menelan baik (nomal) BAB satu kali sehari dengan karakter lunak, BAB terakhir 1 Juli 2013 jam 08.00 Wib dan tidak ditemukan adanya konstipasi.

13.  Genitourinarius
Klien mengatakan BAK biasanya 5-6 kali sehari dengan warna kuning keruh dan selama dirawat di rumah sakit kebiasaan BAK tidak berubah 5-6 kali sehari dengan warna kuning keruh dan berbau khas, untuk BAK klien menggunakan pispot dengan dibantu oleh perawat.

14.  Self Care
Selama klien dirawat di rumah sakit/selama sakit semua kebutuhan klien tidak semua kebutuhan dibantu, hanya berjalan eliminasi dan mandi saja yang dibantu oleh keluarga dan perawat, selebihnya klien dapat melakukan sendiri.

15.  Nutrisi
Penampilan secara umum klien sedang, tidak terjadi penurunan dan pertambahan berat badan TB : 155 cm, BB : 50 kg, nafsu makan selama sakit sedang, porsi yang disediakan hanya 1/2 bagian dihabiskan sehingga dalam adapun diit yang diberikan selama klien dirawat dirumah sakit yaitu diit MB dengan pola makan 3 kali perhari dan klien mampu makan sendiri.

16.  Pengkajian kulit
Tampilan secara umum warna kulit tampak pucat, dengan kelembaban kering, perfusi hangat (37,90C) dan tekstur kulit tampak kasar, kondisi kulit pada luka  post operasi berwarna kemerahan terutup rapi dengan kassa dan tidak ada rembesan darah. Pengkajian bahaya tekanan resiko dekubitus Status mental : sadar/siaga (1), Continence (BAB/miksi) kotrol sepenuhnya (1), Mobilitas : sedikit terbatas (2), Activitas : dapat berjalan dengan bantuan orang lain (2), Nutrisi : kurang (3), Total score : 9 (Sembilan), Penjelasan potensial tidak akan mengalami dekubitus.

17.  Muskulo Skeletal
Keadaan umum klien lemah, ROM ekstremitas tidak normal  (kanan) karena terpasang infus, tidak bengkak sendi dan skala kekuatan 5, klien mengatakan kebas dan gatal pada daerah lipatan paha.

18.  Pendidikan/Rencana Pulang
Klien mengatakan ia sakit karena nyeri dibagian skrotum dan harus menjalani tindakan operasi. Klien dan keluarga mengatakan butuh informasi tentang pengobatan untuk kesembuhan dengan segera dan cara perawatan saat dirumah. Anggota keluarga yang disukai klien untuk merawatnya adalah istrinya. Klien berharap secepatnya sembuh dan bisa segera pulang. Klien mengatakan sepertinya memerlukan bantuan setelah pulang kerumah nantinya. Klien memiliki anggota keluarga yang cakap/mampu dan bersedia membantu klien setelah pulang.

19.  Pemeriksaan Fisik
Keadaan umum lemah, Berat badan : 50 kg, Tinggi badan : 155 cm, tanda- tanda vital : Respirasi : 26 kali/menit, Polse : 82 kali/menit, Kepala : simetris, kulit kepala bersih, rambut panjang dan warna hitam mengkilap, keadaan rambut terawat dengan baik, distribusi merata dan tidak mudah dicabut serta wajah simetris, Mata simetris, konjungtiva pucat, sclera ikterus, pupil isokor, fungsi penglihatan baik. Mulut mukosa mulut kering, lidah kotor (keputih-putihan),  Hidung simetris, sekret dan pendarahan tidak ada. Fungsi penciuman baik tidak ada caries dentis. Telinga simetris, sekret tidak ada, tidak ada pendarahan, tidak ada benjolan, fungsi pendengaran baik. Dada paru-paru simetris, respirasi : 26 kali /menit, taktil fremitus meningkat, jantung : bunyi jantung satu dan bunyi jantung dua normal. Perut simetris, bising usus 4-6 kali/menit,  adanya luka post operasi pada regio iliaka dextra (panjang luka post operasi kurang lebih 3 cm), kondisi luka berwarna kemerahan dan tertup kassa. Kulit turgor kulit baik, tidak ada sianosis, warna kulit pucat, teraba hangat tidak eritema. Kuku simetris. Punggung simetris, tidak ada fraktur, dan nyeri punggung. Ekstremitas atas bawah : bentuk simetris, tidak ada edema, ekstremitas atas kanan ada terpasang IVFD RL 20 tetes/menit. Genetelia nyeri dibagian skrotum. Anus normal. Sistem saraf 12 syraf cranial : I. Olfaktorius : pada test penciuman bubuk kopi, klien mampu menetukan bau bubuk kopi yang di ciumkan pada kedua lubang hidungnya. II. Optikus : penglihatan normal, penglihatan lapang pandang penuh, reflek pupil pada cahaya baik. III. Oculomotorius : reflek pergerakan bola mata baik, dapat bergerak kearah yang tepat dan reflak terhadap sinar yang baik. IV. Troklearis : pergerakan bola mata keatas dan kebawah normal. V. Trigeminus : klien dapat membuka mulut, menggigit dan menguyah lemak. IV Abdusen : pergerakan bola bilateral baik, adanya kehidupan bilateral. VII Vesibulokokhlearis : pada tes gesekan jari dan detak arloji, klien mampu mendengar gesekan jari serta detak arloji pada jarak yang sama dari setiap telinga dan tidak dilakukan tes rinner dan weber. IX Glosofaringeus : reflek menelan klien baik. X : vagus : bicara pasien normal. XI Assesoris : klien mampu memutar kepala dengan normal. XII Hipoglosus : mampu menjulurkan lidah keluar, kesamping kiri dan kanan, tidak ada deviasai dan tekanan pada pupil.

20.  Pemeriksaan laboratorium
Hemoglobin : 12 g%, LED : >40 mm/jam, eritrosit : 1,6 x 103/mm3, leukosit : 7,5 x 103/mm3, hematokrit : 13,0 %, MCV : 86 fl , MCH : 86 pg, MCHC : 31,1 g%, Trombosit : 322 x 103/mm3 , RDW : 15,4 %.

21.  Penatalaksanaan/Terapi       
Infus RL dengan kecepatan 20 tetes/menit, Injeksi : Cefotaksim 1 gram/12 jam, keterolak 1 ampul/8 jam, kalnek 1 ampul/8 jam, ranitidin 1 ampul/8 jam.

22.  Catatan Cerita
Subjektif : Klien menatakan nyeri pada daerah lipatan paha dan nyeri menjalar sampai ke abdomen, Klien mengatakan ketakutan setelah operasi, klien mengatakan cemas dengan keadaanya, Klien mengatakan kebas dan gatal pada lipatan paha, klien mengatkan merasa kurang nyaman berada dirumah sakit, karena sebelumnya tidak pernah dirawat dirumah sakit. klien mengatakan tidak betah dirumah sakit.

Objektif : Keadaan umum lemas, Vital Sign Temperatur : 37,90C, polse : 82x/menit, Respirasi 26x/menit, Tekanan darah : 130/80 mmHg. klien tampak meringis karena nyeri skala 6 (nyeri sedang), dan sering memegang di tempat operasi, Klien tampak gelisah, cemas dan sering menanyakan kapan klien akan boleh pulang, klien tampak sering bertanya-tanya pada perawat dan siswa kapan klien boleh pulang, klien tampak memegang didaerah operasi, adanya luka post operasi hernia inguinal pada abdomen bagian regio iliaka dextra, panjang luka post operasi kurang lebih 3 cm, kondisi luka berwarna kemerahan dan tertutup kasa,  tidak ada rembesan darah.



B.  Diagnosa Keperawatan
1.      Analisa Data
a.      Data Subjektif : Klien mengatakan nyeri pada daerah lipatan paha dan menjalar perut bagian bawah. Data Objektif : klien tampak meringis, dan sering memegang pada tempat post operasi, skala nyeri 6 (nyeri sedang), Vital Sign; Tekanan darah 130/80 mmHg, temperatur 37,9oC, Respirasi rate 26x/menit, polses 82x/menit.  Masalah : Nyeri akut. Penyebab : adanya insisi bedah.

b.      Data Subjektif : Klien mengatakan merasa takut setelah operasi. Data Objektif : Klien tampak gelisah dan sering menanyakan kapan klien akan boleh pulang. Masalah : Ansietas. Penyebab : Krisis situasional, ketidakakraban dengan lingkungan.

c.       Data Subjektif : Klien mengatakan kebas dan gatal ditempat operasi. Data Objektif : Klien tampak memegang didaerah operasi, adanya luka post operasi hernia pada abdomen bagian regio iliaka dextra, panjang luka post operasi kurang lebih 3 cm, kondisi luka berwarna kemerahan dan tertutup kasa,  tidak ada rembesan darah. Masalah : Resiko tinggi terhadap infeksi. Penyebab : Trauma jaringan.

2.      Diangosa keperawatan
a.         Nyeri akut berhubungan dengan adanya insisi bedah.
b.        Anseitas berhubungan dengan Krisis situasional, ketidakakraban dengan lingkungan.
c.         Resiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan trauma jaringan.

C.  Perencanaan Keperawatan
a.       Nyeri akut berhubungan dengan adanya insisi bedah. Tujuan : Menyatakan nyeri hilang. Kriteria hasil : keluhan nyeri tidak ada, ekspresi wajah tenang atau santai, dapat beristirahat tidur dengan tenang.
1.             Kaji tingkat nyeri, catat lokasi, karakteristik, beratnya (skala 0-10) selidki dan laporkan perubahan nyeri dengan cepat. Rasional : Berguna dalam pengawasan keefektifan napas, kemajuan penyembuhan.
2.             Pertahankan istirahat dengan posisi semifowler. Rasional : Gravitasi melokalisasi eksudat inflamasi dalam abdomen bawah atau pelvis, menghilangkan tegangan abdomen yang bertambah dengan posisi terlentang.
3.             Dorong ambulasi dini. Rasional : Meningkatkan normalisasi fungsi organ, contoh merangsang peristaltic dan kelancaran flatus, menurunkan ketidaknyamanan abdomen.
4.             Jelaskan pada pasien penyebab timbulnya nyeri. Rasional : Dengan menjelaskan penyebab timbulnya nyeri pasien mampu beradaptasi dengan hal tersebut, karena itu merupakan hal yang wajar terjadi pada pasien setelah operasi.
5.             Atur posisi yang nyaman bagi pasien. Rasional : dengan mengatur posisi yang nyaman pasien dapat mengurangi rasa nyeri.
6.             Pertahankan istirahat dengan posisi semifowler. Rasional : Gravitasi melokalisasi eksudat inflamasi dalam abdomen bawah atau pelvis, menghilangkan tegangan abdomen yang bertambah dengan posisi tenang.
7.             Berikan aktivitas hiburan. Rasional : Fokus perhatian, meningkatkan relaksasi, dan dapat meningkatkan kemampuan koping.
8.             Kolaborasi Berikan analgesik sesuai indikasi. Rasional : menghilangkan nyeri mempermudah kerja sama dengan intervensi terapi lain. Berikan kantong es pada abdomen. Rasional : Menghilangkan dan mengurangi nyeri melalui penghilang rasa ujung saraf.

b.      Ketakutan/Anseitas berhubungan dengan Krisis situasional, ketidakakraban dengan lingkungan. Tujuan : Menunjukkan perasaan dan mengidentifikasi cara yang sehat dalam berhadapan dengan mereka. Kriteria Hasil : tampil santai, dapat beristirahat/tidur cukup. Melaporkan penurunan rasa takut dan cemas yang berkurang ke tingkat yang dapat dan cemas yang berkurang ke tingkat yang dapat diatasi.
1)               Sediakan waktu kunjungan oleh personel kamar operasi sebelum pembedahan jika memungkinkan. Rasional : dapat menjamin meredakan keresahan pasien, dan juga menyediakan informasi untuk perawatan intraoperasi formulatif.
2)               Informasikan pasien/orang terdekat tentang peran advokat perawat intraoperasi. Rasional : kembangkan rasa percaya/hubungan, turunkan rasa takut akan kehilangan control pada lingkungan yang asing.
3)               Identifikasi tingkat rasa takut yang mengharuskan dilkukannya penundaan prosedur pembedahan. Rasional : rasa takut yang belebihan atau terus menerus akan mengakibatkan reaksi stress yang berlebihan.
4)               Validasi sunber rasa takut. Rasional : mengidentifikasi rasa takut yang spesifik akan membantu pasien untuk menghadapinya secara realistis.
5)               Catat ekspresi yang berbahaya/perasaan tidak tertolong, preokupasi dengan antisipasi perubahan/kehilangan perasaan tercekik. Rasional : pasien mungkin telah berduka terhadap kehilangan yang ditunjukan dengan antisipasi prosedur pembedahan.
6)               Beritahu pasien kemungkinan dilakukannya anestesi local atau spinal dimana rasa pusing atau mengantuk mungkin saja terjadi. Rasional : mengurangi ansietas/ rasa takut bahwa pasien mungkin melihat prosedur.
7)               Perkenalkan staf pada waktu pergantian ke ruang operasi. Rasional : Menciptakan hubungan dan kenyaman psikologis.
8)               Kolaborasi Rujuk pada perawatan oleh rohaniawan/spiritual, spesialis klinis perawat psikiatri. Rasional : Konseling professional mungkin dibutuhkan pasien untuk mengatasi rasa takut.

c.       Resiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan trauma jaringan. Tujuan : Mengidentifikasi factor-faktor risiko individual intervensi untukmengurangi potensial infeksi. Kriteria Hasil : Pertahankan lingkungan aseptic yang aman.
1)               Tetap pada fasilitas control infeksi, sterilisasi dan prosedur/kebijakan aseptic. Rasional : Tetapkan mekanisme dirancang untuk mencegah infeksi.
2)               Ulangi studi laboratorium untuk kemungkinan infeksi sistemik. Rasional : Peningkatan SDP akan mengindikasikan infeksi dimana prosedur operasi akan mengurangi.
3)               Uji bahwa kulit praoerasi. Rasional : pembersihan akan mengurangi jumlah bakteri pada kulit.
4)               Minimalkan jumlah bakteri pada lokasi operasi. Identifikasi gangguan pada tehnik aseptic dan atasi dengan segera pada waktu terjadi. Rasional : kontaminasi dengan lingkungan/kontak personal akan menyebabkan daerah yang sterilmenjadi tidak steril.


//-----Daftar Pustaka Lp Askep Hernia -----//
Asmadi (2008), Konsep Dasar Keperawatan, Jakarta : EGC

Carpenito,L.J.(2009) Diagnosis Keperawatan: aplikasi pada praktik klinis. Edisi ke Sembilan. Jakarta :EGC  

Cecily, B, (2009). Buku  Saku Keperawatan Pediarik. Edisi ke lima. Jakarta : EGC

Doengoes E. Marilyn. (2000). Rencana Asuhan Keperawatan. Edisi tiga. EGC. Jakarta.

Pierce, G, A. (2007) At a Glance Ilmu Bedah. Edisi ke Tiga. Jakarta : Erlangga.

Seymour, S  (2000) Intisari prinsip-prinsip ilmu bedah, edisi ke enam. Jakarta: EGC

Suratun (2010) Asuhan Keperawatan Klien Gangguan Sistem Gastrointestinal. Jakarta : CV Trans Info Media

Tambayong, J. (2000). Patofisiologi untuk keperawatan. Editor : Monica easter. Jakarta : EGC

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Askep Hernia"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel