ASKEP LUKA BAKAR

Askep Luka Bakar| serangkaian laporan tentang seorang pasien yang memiliki masalah serupa oleh seorang perawat yang tentunya harus di tulis secara lengkap sama seperti halnya membuat makalah keperawatan, dalam hal ini adalah sama teori luka bakar yang dimaksud antara pada orang dewasa dan anak-anak.

Tersedia juga  LP Askep Vertigo Lengkap

Setelah anda mebuat laporan penduhuluan ini dan melakukan pengkajian pada pasien kita barulah kita mebuat analisa data berdasarkan data yang kita temukan pada saat melakukan pengkajian keperawatan. sementara itu berikut ini adalah contoh askep luka bakar yang setidaknya sudah saya susun dengan rapi sehingga memudahkan sobat dalam memanfaatkannya.



ASUHAN KEPERAWATAN LUKA BAKAR

A. LATAR BELAKANG LUKA BAKAR

Luka Bakar Luka bakar merupakan salah satu jenis luka yang terjadi akibat paparan panas, karena terbakar api, Luka Bakar semburan air panas, atau karena paparan zat kimia asam basa, akibat paparan matahari dalam waktu yang lama, atau bahkan bisa juga terjadi karena akibat tegangan listrik. Kadang dapat mengenai jaringan yang lebih dalam seperti otot, tulang dan pembuluh darah. Luka bakar dapat ditangani dengan pertolongan pertama. Kejadian luka bakar cukup sering dan jika tidak ditangani dengan baik dapat mengakibatkan terjadinya jaringan parut pada kulit. Dapat berakibat kecacatan dan gangguan fungsi anggota tubuh (Dewi, 2013).

Luka bakar dapat mengakibatkan masalah yang kompleks yang dapat meluas melebihi kerusakan fisik yang terlihat pada jaringan yang terluka secara langsung. Masalah kompleks ini mempengaruhi semua sistem tubuh dan beberapa keadaan yang mengancam kehidupan (Nursaid 2013).

Data World Health Organitation (WHO) dalam (Arian, 2014) luka bakar menyebabkan 195.000 kematian/tahun hingga tahun 2013 diseluruh dunia terutama dinegara miskin dan berkembang. Luka bakar yang tidak menyebabkan kematian pun ternyata menimbulkan kecacatan pada penderitanya. Wanita di ASEAN memiliki tingkat terkena luka bakar lebih tinggi dari wilayah lainnya, dimana 27% nya berkontribusi menyebabkan kematian diseluruh dunia, dan hampir 70%  nya merupakan penyebab kematian di Asia Tenggara.

The National Institute of Burn Medicine yang mengumpulkan data- data statistik dari berbagai pusat luka bakar di seluruh Amerika Serikat mencatat bahwa sebagian besar pasien (75%) merupakan korban dari perbuatan mereka sendiri. Tersiram air mendidih pada anak-anak yang baru belajar berjalan, bermain-main dengan korek api pada usia anak sekolah, cedera karena arus listrik pada remaja laki-laki, penggunaan obat bius, alkohol serta sigaret pada orang dewasa semuanya ini turut memberikan kontribusi pada angka statistik tersebut (Hermana, 2014).

Diperkirakan sebesar 2 juta penduduk Amerika memerlukan pertolongan medik setiap tahunnya yang disebabkan karena luka bakar 70.000 diantaranya dirawat di rumah saki dengan luka yang berat. Luka bakar merupakan penyebab kematian ketiga akibat kecelakaan pada semua kelompok umur laki-laki cenderung lebih sering mengalami luka bakar dari pada wanita, terutama pada orang tua atau lanjut usia di atas 70 tahun. Sedangkan di Indonesia masih merupakan problem yang berat, perawatan dan rehabilitasnya masih sulit sehingga memerlukan ketekunan serta biaya yang mahal, tenaga terlatih dan terampil mengingat banyaknya masalah dan komplikasi yang dapat dialami pasien (Firmansyah, 2014).

Angka kejadian luka bakar di Indonesia cukup tinggi, lebih dari 250 jiwa/tahun meninggal akibat luka bakar hingga 2012. Dikarenakan jumlah anak–anak dan lansia cukup tinggi di Indonesia serta ketidakberdayaan anak–anak dan lansia  untuk menghindari terjadinya kebakaran. Maka, usia anak–anak dan lansia menyumbang angka kematian tertinggi akibat luka bakar yang terjadi di Indonesia hingga tahun. (Arian, 2014).

Prevalensi penderita luka bakar di Provinsi Aceh tidak diketahui secara pasti namun pada sebuah Rumah Sakit ternama di Provinsi Aceh, RSUD Zainal Abidin Banda Aceh pada tahun 2012 terdapat 71% penderita dengan luka bakar yang berjenis kelamin laki-laki sedangkan pada perempuan hanya 28,6%, persentase tersebut menunjukkan bahwa pria lebih banyak menderita luka bakar bila dibandingkan dengan wanita, hasil penelitian yang didapatkan data bahwa pasien luka bakar yang disebabkan oleh api sebesar 57,1% dan yang disebabkan oleh tegangan listrik 42,9%.  (Medina 2012).

Peran perawat sebagai Promotif, Preventif, Kuratif, dan Rehabilitatif diharapkan mampu melakukan perawatan pada klien luka bakar baik biologis maupun psikis klien, dan salah satu fungsi perawat sebagai konselor diharapkan mampu membantu permasalahan klien. Perawat dapat memberikan dorongan dan motivasi kepada klien kearah pemecahan masalah. Dukungan perawat diharapkan akan dapat meningkatkan rasa percaya diri pada klien, sehingga klien mampu menerima keadaan tubuhnya  sesuai dengan kondisi yang terjadi  (Arian, 2014).

B. Konsep Luka Bakar

1 Pengertian Luka Bakar

Luka adalah keadaan terputusnya kontinuitas jaringan yang diakibatkan oleh trauma mekanik, operasi, ischemia/vasculer dan tekanan akibat terjadinya trauma pada kulit beserta struktur dibawahnya (Ekaputra, 20013, hal 7).

Luka bakar adalah luka yang disebabkan oleh kontak dengan suhu tinggi seperti api, air panas, listrik, bahan kimia dan radiasi juga oleh sebab kontak dengan suhu rendah (Wijaya, 2013. Hal. 108).

Sedangkan menurut Grace (2006, Hal. 87) Luka bakar merupakan respon kulit dan jaringan subkutan terhadap trauma suhu / termal, luka bakar dengan ketebalan parsial merupakan luka bakar yang tidak merusak epitel kulit maupun hanya merusak sebagian dari epitel.

Dari beberapa pengertian diatas maka penulis menyimpulkan bahwa Luka bakar adalah kerusakan pada kulit yang sering disebabkan oleh panas dan bisa sangat menyakitkan hingga mengakibatkan gejala seperti kulit memerah, kulit mengelupas, luka melepuh, kulit hangus, pembengkakan


2 Etiologi

Menurut Wijaya (2013. Hal. 108) penyebab terjadinya luka bakar adalah sebagai berikut :

1) Luka bakar termal
Agen pecendera dapat berupa api, air panas, atau kontak dengan objek panas, luka bakar api berhubungan dengan asap /cedera inhalasi (cedera terbakar, kontak dan kobaran api).
2) Luka bakar listrik
Cedera listrik yang disebabkan oleh aliran listrik dirumah merupakan insiden tertinggi pada anak-anak yang masih kecil, yang sering memasukan benda konduktif kedalam colokan listrik dan menggigil atau menghisap kabel listrik yang tersambung. Terjadi dari tife/voltase aliran yang menghasilkan proporsi panas untuk tahanan dan mengirimkan jalan sedikit tahanan (contoh saraf memberikan tahanan kecil dan tulang merupakan tahanan terbesar) Dasar cedera menjadi lebih berat dari cedera yang terlihat.
3)Luka bakar kimia
Terjadi dari tife/kandungan agen pencedera, serta konsentrasi dan suhu agen.
 4) Luka Bakar Radiasi
Luka bakar bila terpapar pada bahn radioaktif dosis tinggi.


    3 Patofisiologi Luka Bakar

    Luka bakar yang hanya mengenai kulit dangkal dikenal sebagai luka bakar superficial atau luka bakar tingkat pertama. Ketika kerusakan menembus ke beberapa lapisan lebih jauh, maka disebut luka  bakar dengan ketebalan parsial atau luka bakar tingkat dua.  Luka bakar dengan kerusakan ketebalan penuh atau cedera maluas keseluruh lapisan kulit, maka disebut luka bakar derajat tiga. Seangkan luka bakar derajat empat melibatkan cedera pada jaringan yang lebih dalam, seperti otot atau tulang.

    Luka bakar yang dikarenakan suhu yang panas akan menyebabkan kehilangan dan kerusakan protein sehingga menimbulkan kerusakan sel dan jaringan kulit. Kerusakan sekunder kulit oleh panas dapat berupa gangguan sensasi kulit, penurunan kemampuan untuk mencegah kehilangan air melalui penguapan dan mengendalikan suhu tubuh, gangguan membran sel yang menyebabkan sel kehilangan akan elektrolit seperti kalium, natrium, dan ion lainnya.

    Pada luka bakar yang luas akan timbul respon inflamasi yang signifikan dan menyebabkan peningkatan kebocoran cairan dari kapiler, sehingga jaringan akan mengalami edema pada tahap berikutnya. Lambat laun, kebocoran cairan ini dapat menyebabkan kehilanga volume darah dan kehilangan plasma yang signifikan, memuat darah lebih pekat dan memperburuk aliran darah ke organ seperti ginjal dan saluran pencernaan. Jika tidak mendapatkan pertolongan segera, maka dapat menyebabkan gagal ginjal.

    Kebanyaakan luka bakar superficial akan sembuh tanpa masalah. Luka bakar sederhana dapat dikelola dalam perawatan primer namun luka bakar yang kompleks harus ditangani secara komprehensif dan memerlukan tenaga spesialis melalui pendekatan multidisiplin yang terampil demi hasil klinis yang memuaskan (Suriadi, 2015, hal. 146).

    4 Tanda dan Gejala

    Menurut Majid (2013, hal 35) Berat ringannya luka bakar tergantung pada jumlah jaringan yang terkena dan kedalaman luka bakar :
    1) Luka bakar derajat 1
    Merupakan luka bakar yang pal;ing ringan. Kulit yang terbakar menjadi merah, nyeri, sangat sensitive terhadap sentuhan dan lembab atau membengkak. Jika ditekan, daerah yang terbakar akan memutih dan belum terbentuk bulat

    2) Luka bakar derajat 2
    Menyebabkan kerusakan yang lebih dalam. kulit melepuh, dasarnya tampak merah atau keputihan dan terisi oleh cairan kental yan jernih. Jika disentuh warnanya berubah menjadi putih terasa nyeri.

    3) Luka bakar derajat 3
    Menyebabkan kerusakan yang paling dalam. Permukaannya bisa berwarna putih dan lembut atau berwarna hitam, hangus dan  kasar. Kerusakan sel darah merah pada daerah yang terbakar bisa menyebabkan luka bakar berwarna merah terang. Kadang daerah yang terbakar melepuh dan rambut/bulu ditempat tersebut mudah dicabut dari akarnya. Jika disentuh, tida timbul rasa nyeri karena ujung saraf pada kulit telah mengalami kerusakan akibat luka bakar, maka cairan akan merembes dari pembuluh darah dan menyebabkan pembengkakan. Pada luka bakar yang luas, kahilangan sejumlah besar cairan karena perembesan tersebut bisa menyebabkan terjadinya syok. Tekanan darah rendah sehingga darah yang mengalir ke otak dan organ lainnya sedikit.

    Luka bakar juga dapat diklasifikasikan berdasarkan luasnya luka bakar, yaitu dengan menghitung seberapa luas luka bakar tersebut. Beberapa ahli membuat suatu metode untuk menentukan luasnya luka bakar. Beberapa metode yang digunakan untuk menentukan luas luka bakar diantaranya adalah metode rule of nine. Ukuran luka bakar dapat ditentukan dengan menggunakan metode tersebut. Untuk mengetahui ukuran luka bakar ditentukan dengan menghitung prosestase dari permukaan tubuh yang terkena luka bakar. Akurasi dari perhitungan bervariasi menurut metode yang digunakan dan pengalaman seseorang dalam menentukan luas luka bakar.

    Rumus ‘Rule of Nine’ atau ‘Rule of Wallace’ pada orang dewasa adalah sebagai berikut:
    • Kepala : 9%
    • Lengan masing-masing 9% : 18%
    • Badan depan 18%, badan belakang 18% : 36%
    • Tungkai masing-masing 18% : 36%
    • Genetalia/perineum : 1%
    Total  : 100%
    Sedangkan rumus ‘Rule of Nine’ atau ‘Rule of Wallace’ pada anak – anak yaitu :
    • Kepala dan leher : 18%
    • Lengan masing-masing 9% : 18%
    • Badan depan 18%, badan belakang 18% : 36%
    • Tungkai masing-masing 13,5% : 27%
    • Genetalia/perineum : 1%
    Total  : 100%


    5 Penatalaksanaan

    Pertolongan Perama
    Pertolongan pertama bisa dilakukan untuk mengobati luka bakar ringan. Hal ini dilakukan agar kerusakan kulit yang terjadi tidak bertambah. Berikut ini adalah beberapa cara sederhana yang bisa dilakukan:
    • Menghentikan proses terbakar secepat mungkin.
    • Mendinginkan luka dengan air biasa selama 20-30 menit; jangan menggunakan es atau air dingin.
    • Menyingkirkan pakaian atau aksesoris yang menutupi luka bakar.
    • Membersihkan dan menutup luka bakar dengan plastik bening yang bersih atau perban.
    • Mengonsumsi obat pereda rasa sakit seperti parasetamol.
    • Jauhkan luka bakar dari paparan sinar matahari langsung.
    Jika terjadi melepuh pada kulit akibat luka bakar, hindari upaya untuk memecahnya sendiri karena berisiko membuat luka terinfeksi.
    Terdapat beberapa kondisi lain yang juga membutuhkan pertolongan medis secepatnya, jika:
    • Luka bakar yang terjadi luas atau dalam.
    • Luka bakar yang disebabkan bahan kimia dan listrik.
    • Luka bakar dalam yang terjadi pada wajah, tangan, lengan, kaki, telapak kaki, alat kelamin, bokong dan persendian.
    • Luka bakar berukuran apa pun  yang menyebabkan kulit menjadi putih atau hangus.
    Kelompok yang rentan yaitu wanita hamil, lansia, balita, penderita cedera lain yang membutuhkan penanganan, orang yang tubuhnya akan mengalami syok, penderita gangguan sistem kekebalan tubuh dan penderita penyakit kronis seperti diabetes juga sebaiknya memeriksakan diri ke dokter jika mengalami luka bakar.
    Bagi yang mengalami luka bakar karena panas matahari, waspadai terhadap terjadinya sengatan panas. Sengatan panas yang tidak diatasi dengan cepat bisa merusak otak, jantung, dan ginjal. Jika penanganan ditunda, kondisi akan memburuk dengan cepat dan bahkan bisa menyebabkan kematian.
    Jika mencurigai terjadi kelelahan karena panas matahari, segera pindahkan penderita ke tempat teduh. Pastikan minum banyak air untuk menghindari dehidrasi, dan longgarkan pakaian mereka. Penderita disarankan untuk menyiram tubuh dengan air dingin untuk menurunkan suhu pada bagian kulit yang terbakar. Penderita seharusnya segera membaik. Jika tidak segera membaik, segera bawa ke rumah sakit terdekat sebelum mereka mengalami sengatan panas.
    Pengobatan di Rumah Sakit
    Pengobatan yang dilakukan tergantung pada tingkat keparahan luka bakar. Berikut ini adalah beberapa langkah pengobatan yang dilakukan dalam menangani luka bakar:
    • Obat penghilang rasa sakit. Luka bakar terkadang bisa sangat menyakitkan. Terkadang morfin diperlukan untuk mengatasi rasa sakit yang terjadi.
    • Perawatan berbasis air. Dokter mungkin akan melakukan terapi ultasound kabut air untuk merangsang dan membersihkan jaringan yang rusak.
    • Antibiotik. Jika terjadi infeksi akibat luka bakar yang diderita, antibiotik mungkin diperlukan untuk mengatasi infeksi yang terjadi. Antibiotik bisa diberikan melalui infus.
    • Perban, yang berfungsi menciptakan kondisi lembap untuk mencegah infeksi dan membantu penyembuhan luka bakar.
    • Cairan infus. Dokter biasanya akan memberikan cairan infus secara berkelanjutan pada pasien dengan luka bakar. Hal ini dilakukan untuk mencegah terjadinya dehidrasi dan juga kegagalan fungsi organ tubuh manusia.
    • Krim dan salep luka bakar. Ini akan mempercepat penyembuhan, mencegah infeksi, menjaga kelembapan luka, dan mengurangi nyeri.
    • Suntikan tetanus. Suntikan ini mungkin akan disarankan dokter sebagai langkah pencegahan.
    Berikut ini adalah langkah pembedahan dan prosedur lain untuk menangani luka bakar, yaitu:
    • Membuang koreng di sekitar luka bakar, agar tidak menghambat aliran darah.
    • Selang makanan, masuk melewati hidung ke perut untuk menyalurkan nutrisi ke tubuh penderita.
    • Pencangkokan kulit¸pada bagian yang terbakar dengan menggunakan kulit dari bagian tubuh lain atau kulit dari mayat atau babi.
    • Operasi plastik. Dokter bedah plastik bisa memperbaiki penampilan kulit yang terbakar. Persendian yang terbakar hingga tidak berfungsi sempurna juga bisa ditingkatkan fleksibilitasnya oleh dokter bedah.
    • Alat bantu pernapasan. Jika wajah atau leher yang terbakar, tenggorokan beresiko mengalami pembengkakan sehingga penderita kesulitan bernapas. Dokter akan memasukkan selang pernapasan untuk mengalirkan oksigen ke paru-paru.
    Setelah operasi luka bakar, sebaiknya Anda menghindari sinar matahari langsung mengenai luka bakar yang terjadi. Pajanan langsung sinar matahari terhadap luka bakar bisa mengakibatkan kulit melepuh.
    Penatalaksanaan pada pasien luka bakar menurut Grace, (2007, hal. 87) ialah sebagai berikut :
    1. Mulai resusitasi, buat jalur intra vena, berikan O2
    2. Nilai ukuran luka bakar (aturan 9 dari Wallace)
    3. Luka bakar >20% pada dewasa dan >10% pada anak.
    4. Pantau nadi, tekanan darah, suhu, keluaran urin, berikan analgesia adekuat intra vena dan pertimbangkan selang nasogastrik (nasogastric tube, NGT), berikan profilaksis tetanus.
    5. Berikan cairan intra vena berdasarkan formula muir-barclay : % luka bakar x berat badan dalam kg/2 = satu aliquot cairan.
    6. Berikan 6 aliquot cairan selama 36 jam pertama dengan urutan 4, 4, 4, 6, 6, 12 jam dari waktu terjadinya luka bakar. Biasanya menggunakan larutan koloid, albumin atau plasma.
    7. Terapi terbuka – bersihkan luka bakar dan biarkan terpapar pada lingkungan khusus yang bersih.
    8. Debridement eskar dan skin graft.


    6 Pemeriksaan penunjang

    Pemeriksaan penunjang pada pasien dengan luka bakar menurut Wijaya (2013, hal. 115) adalah sebagai berikut :
    1. Hitung darah lengkap; Hematokrit meningkat karena hemokonsentrasi. Penurunan hematokrit karena kerusakan endothelium
    2. Peningkatan sel darah putih, karena kehilangan sel pada sisi luka dan respon peradangan.
    3. Analisa gas darah; Penurunan PO2 pada retensi CO asidosis dapat terjadi penurunan fungsi ginjal dan kehilangan mekanisme kompensasi.
    4. Karboksihemoglobin, > 75%, indikasi keracunan CO (karbon monoksida)
    5. Elektrolit serum
    Peningkatan kalium diawali karena cedera jaringan kerusakan eritrosit dan penurunan fungsi ginjal.
    1. Peningkatan BUN
    2. Peningkatan Natrium
    3. Peningkatan Klorida


    7 Komplikasi

    Komplikasi yang sering terjadi pada pasien dengan luka bakar menurut Wijaya (2013, hal. 118) antara lain; Curling Ulcer / dekubitus, Sepsis, Pneumonia, Gagal Ginjal Akut, Deformitas, Kontraktur dan hipertrofi jaringan parut
    Komplikasi yang lebih jarang terjadi adalah edema paru akibat kelebihan beban cairan atau sindrom gawat panas akut (ARDs, acute respiratory disters syndrome) yang menyertai sepsis gram negatif. Sindrom ini di akibatkan oleh kerusakan kapiler paru dan kebocoran cairan kedalam ruang interstisial paru.


    8 Pencegahan Luka Bakar

    Luka bakar bisa dihindari tergantung kepada penanganan di tempat yang berbeda-beda. Selalu pertimbangkan keamanan lingkungan dan keselamatan orang-orang di sekitarnya. Waspadailah benda-benda yang berpotensi melukai mereka yang tidak menyadari keberadaannya.
    Berikut ini adalah beberapa hal sederhana yang bisa dilakukan untuk mencegah terjadinya luka bakar:
    • Jangan pernah meninggalkan kompor yang menyala tanpa dijaga dan jauhkan cairan panas dari jangkauan anak-anak.
    • Gunakan pelindung tangan ketika memasak dan mengambil makanan dari oven.
    • Gunakan alat setrika di meja yang tinggi dan jangan lupa mematikan alat setrika ketika sudah selesai menggunakannya.
    • Periksa suhu air hangat sebelum digunakan untuk memandikan bayi karena kulit mereka lebih tipis dibandingkan dengan kulit orang dewasa.
    • Hindari merokok di dalam rumah atau gedung.
    • Jauhkan bahan kimia, korek api, lilin, atau bahan yang mudah terbakar lainnya dari jangkauan anak-anak.
    • Siapkan alat pemadam api darurat di rumah.


    C. Konsep Asuhan Keperaratan Pada Pasien Luka Bakar

    1 Pengkajian

    Menurut Wijaya (2013, hal. 118)  adapun pengkajian keperawatan pada klien dengan luka bakar adalah adalah sebagai berikut :
    1. Identitas pasien: Resiko luka bakar setiap umur berbeda : anak dibawah 2 tahun dan diatas 60 tahun mempunyai angka kematian lebih tinggi, pada umur 2 tahun lebih rentan terkena infeksi.
    2. Riwayat kesehatan sekarang meliputi : sumber kecelakaan, sumber panas atau penyebab yang berbahaya, gambaran yang mendalam bagaimana luka bakar terjadi, faktor yang mungkin berpengaruh seperti alkohol, oabt-obatan. Keadaan luka fisik disekitar luka bakar, peristiwa yang terjadi saat luka sampai ke rumah sakit. Beberapa keadaan lain yang memperberat luka bakar.
    3. Riwayat kesehatan dahulu : penting untuk menentukan apakah pasien mempunyai penyakti yang merubah kemampuan untuk memenuhi keseimbangan cairan dan daya pertahanan terhadap infeksi (seperti DM, gagal jantung, sirosis hepatis, gangguan pernapasan).
    4. Pemeriksaan fisik dan psikososial
    5. Aktivitas/istirahat : Tanda: Penurunan kekuatan, tahanan; keterbatasan rentang gerak pada area yang sakit; gangguan massa otot, perubahan tonus.
    6. Sirkulasi: Tanda (dengan cedera luka bakar lebih dari 20% APTT): hipotensi (syok); penurunan nadi perifer distal pada ekstremitas yang cedera; vasokontriksi perifer umum dengan kehilangan nadi, kulit putih dan dingin (syok listrik); takikardia (syok/ansietas/nyeri); disritmia (syok listrik); pembentukan oedema jaringan (semua luka bakar).
    7. Integritas ego: Gejala: masalah tentang keluarga, pekerjaan, keuangan, kecacatan. Tanda: ansietas, menangis, ketergantungan, menyangkal, menarik diri, marah.
    8. Eliminasi: Tanda: haluaran urine menurun/tak ada selama fase darurat; warna mungkin hitam kemerahan bila terjadi mioglobin, mengindikasikan kerusakan otot dalam; diuresis (setelah kebocoran kapiler dan mobilisasi cairan ke dalam sirkulasi); penurunan bising usus/tak ada; khususnya pada luka bakar kutaneus lebih besar dari 20% sebagai stres penurunan motilitas/peristaltik gastrik.
    9. Makanan/cairan: Tanda: oedema jaringan umum; anoreksia; mual/muntah
    10. Neurosensori: Gejala: area batas; kesemutan. Tanda: perubahan orientasi; afek, perilaku; penurunan refleks tendon dalam (RTD) pada cedera ekstremitas; aktifitas kejang (syok listrik); laserasi korneal; kerusakan retinal; penurunan ketajaman penglihatan (syok listrik); ruptur membran timpanik (syok listrik); paralisis (cedera listrik pada aliran saraf).
    11. Nyeri/kenyamanan: Gejala: Berbagai nyeri; contoh luka bakar derajat pertama secara eksteren sensitif untuk disentuh; ditekan; gerakan udara dan perubahan suhu; luka bakar ketebalan sedang derajat kedua sangat nyeri; smentara respon pada luka bakar ketebalan derajat kedua tergantung pada keutuhan ujung saraf; luka bakar derajat tiga tidak nyeri.
    12. Pernafasan: Gejala: terkurung dalam ruang tertutup; terpajan lama (kemungkinan cedera inhalasi). Tanda: serak; batuk mengii; partikel karbon dalam sputum; ketidakmampuan menelan sekresi oral dan sianosis; indikasi cedera inhalasi. Pengembangan torak mungkin terbatas pada adanya luka bakar lingkar dada; jalan nafas atau stridor/mengii (obstruksi sehubungan dengan laringospasme, oedema laringeal); bunyi nafas: gemericik (oedema paru); stridor (oedema laringeal); sekret jalan nafas dalam (ronkhi).



    2 Diagnosa Keperawatan Pada Pasien Luka Bakar

    Menurut Wijaya (2013, hal. 120)  diagnosa keperawatan pada klien dengan luka bakar adalah adalah sebagai berikut :
    1. Resiko tinggi kekurangan volume cairan berhubungan dengan Kehilangan cairan melalui rute abnormal : status hypermetabolik.
    2. Resiko tinggi bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan obtruksi trakeabronkial, edema mukosa dan hilangnya kerja silia. Luka bakar daerah leher, kompresi jalan nafas thorak dan dada.
    3. Resiko kerusakan pertukaran gas berhubungan dengan cedera inhalasi asap atau sindrom kompartemen torakal sekunder terhadap luka bakar sirkumfisial dari dada atau leher.
    4. Resiko infeksi berhubungan dengan Pertahanan primer tidak adekuat; kerusakan perlinduingan kulit; jaringan traumatik. Pertahanan sekunder tidak adekuat, penurunan Hb, penekanan respons inflamasi.
    5. Nyeri berhubungan dengan Kerusakan kulit/jaringan; pembentukan edema, manipulasi jaringan cidera.
    6. Resiko tinggi kerusakan perfusi jaringan berhubungan dengan luka bakar melingkari ekstremitas atau luka bakar listrik dalam.
    7. Kerusakan integritas kulit berhubungan destruksi lapisan kulit.
    8. Gangguan citra tubuh (penampilan peran) berhubungan dengan krisis, kecacatan dan nyeri.



    3 Intervensi/Rencana Keperawatan Pada Pasien Luka Bakar

    Menurut Wijaya (2013, hal. 122)  perencanaan keperawatan pada klien dengan luka bakar adalah adalah sebagai berikut :
    Tabel: 3.1. Intervensi Keperawatan
    Diagnosa Keperawatan
    Intervensi
    Rasional
    Resiko tinggi kekurangan volume cairan berhubungan dengan Kehilangan cairan melalui rute abnormal : status hypermetabolik.

    Tujuan : Pasien dapat mendemostrasikan status cairan dan biokimia membaik.

    Kriteria Hasil: tak ada manifestasi dehidrasi, resolusi oedema, elektrolit serum dalam batas normal, haluaran urine di atas 30 ml/jam.
    1. Awasi tanda vital, CVP. Perhatikan kapiler dan kekuatan nadi perifer. Awasi pengeluaran urine dan berat jenisnya. Observasi warna urine dan hemates sesuai indikasi.


    1. Timbang berat badan setiap hari


    1. Ukur lingkar ekstremitas yang terbakar tiap hari sesuai indikasi



    1. Pasang/ pertahankan ukuran kateter IV.



    1. Berikan obat sesuai idikasi : Diuretika contohnya Manitol (Osmitrol), Kalium, Antasida




    1. Pantau: Tanda- tanda vital setiap jam selama periode darurat, setiap 2 jam selama periode akut, dan setiap 4 jam selama periode rehabilitasi.
    1. Memberikan pedoman untuk penggantian cairan dan mengkaji respon kardiovaskuler.Penggantian cairan dititrasi untuk meyakinkan rata-2 pengeluaran urine 30-50 cc/jam pada orang dewasa.
    2. Penggantian cairan tergantung pada berat badan pertama dan perubahan selanjutnya.
    3. Memperkirakan luasnya oedema/perpindahan cairan yang mempengaruhi volume sirkulasi dan pengeluaran urine.
    4. Meningkatkan pengeluaran urine dan membersihkan tubulus dari debris /mencegah nekrosis.
    5. Menurunkan keasaman gastrik sedangkan inhibitor histamin menurunkan produksi asam hidroklorida untuk menurunkan produksi asam hidroklorida untuk menurunkan iritasi gaster.
    6. Mengidentifikasi penyimpangan indikasi kemajuan atau penyimpangan dari hasil yang diharapkan. Periode darurat (awal 48 jam pasca luka bakar) adalah periode kritis yang ditandai oleh hipovolemia yang mencetuskan individu pada perfusi ginjal dan jarinagn tak adekuat.
    Resiko tinggi bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan obtruksi trakeabronkial;edema mukosa dan hilangnya kerja silia. Luka bakar daerah leher; kompresi jalan nafas thorak dan dada.

    Tujuan : Bersihan jalan nafas tetap efektif.
    Kriteria Hasil : Bunyi nafas vesikuler, RR dalam batas normal, bebas dispnoe/cyanosis
    1. Kaji refleks gangguan/menelan ketidakmampuan menelan, serak, batuk mengi.Awasi frekuensi, irama, kedalaman pernafasan ; perhatikan adanya pucat/sianosis dan sputum mengandung karbon atau merah muda.
    2. Auskultasi paru, perhatikan stridor, mengi/gemericik, penurunan bunyi nafas, batuk rejan.

    1. Perhatikan adanya pucat atau warna merah pada kulit yang cidera
    2. Tinggikan kepala tempat tidur. Hindari penggunaan bantal di bawah kepala
    3. Dorong batuk/latihan nafas dalam dan perubahan posisi sering.
    4. Hisapan (bila perlu) pada perawatan ekstrem, pertahankan teknik steril.




    1. Tingkatkan istirahat suara tetapi kaji kemampuan untuk bicara dan/atau menelan sekret oral secara periodik.



    1. Selidiki perubahan perilaku/mental contoh gelisah, agitasi, kacau mental.



    1. Awasi 24 jam keseimbngan cairan, perhatikan variasi/perubahan.





    1. Lakukan program kolaborasi meliputi :
    Berikan pelembab O2 melalui cara yang tepat, contoh masker wajah
    Awasi/gambaran seri GDA
    Kaji ulang seri rontgen
    Berikan/bantu fisioterapi dada/spirometri intensif.Siapkan/bantu intubasi atau trakeostomi sesuai indikasi.
    1. Dugaan cedera inhalasiTakipnea, penggunaan otot bantu, sianosis dan perubahan sputum menunjukkan terjadi distress pernafasan/edema paru dan kebutuhan intervensi medik


    1. Obstruksi jalan nafas/distres pernafasan dapat terjadi sangat cepat atau lambat contoh sampai 48 jam setelah terbakar.
    2. Dugaan adanya hipoksemia atau karbon monoksida.
    3. Meningkatkan ekspansi paru optimal/fungsi pernafasan.

    1. Meningkatkan ekspansi paru, memobilisasi dan drainase sekret.
    2. Membantu mempertahankan jalan nafas bersih, tetapi harus dilakukan kewaspadaan karena edema mukosa dan inflamasi. Teknik steril menurunkan risiko infeksi.
    3. Peningkatan sekret/penurunan kemampuan untuk menelan menunjukkan peningkatan edema trakeal dan dapat mengindikasikan kebutuhan untuk intubasi.
    4. Meskipun sering berhubungan dengan nyeri, perubahan kesadaran dapat menunjukkan terjadinya/memburuknya hipoksia.
    5. Perpindahan cairan atau kelebihan penggantian cairan meningkatkan risiko edema paru. Catatan: Cedera inhalasi meningkatkan kebutuhan cairan sebanyak 35% atau lebih karena edema.
    6. O2memperbaiki hipoksemia/asidosis. Pelembaban menurunkan pengeringan saluran pernafasan dan menurunkan viskositas sputum. Data dasar penting untuk pengkajian lanjut status pernafasan dan pedoman untuk pengobatan. PaO2kurang dari 50, PaCO2lebih besar dari 50 dan penurunan pH menunjukkan inhalasi asap dan terjadinya pneumonia/SDPD.
    Resiko kerusakan pertukaran gas berhubungan dengan cedera inhalasi asap atau sindrom kompartemen torakal sekunder terhadap luka bakar sirkumfisial dari dada atau leher.


    Tujuan : Pasien dapat mendemonstrasikan oksigenasi adekuat.

    Kriteria Hasil: RR 12-24 x/mnt, warna kulit normal, GDA dalam renatng normal, bunyi nafas bersih, tak ada kesulitan bernafas.
    1. Pantau laporan GDA dan kadar karbon monoksida serum. Beriakan suplemen oksigen pada tingkat yang ditentukan. Pasang atau bantu dengan selang endotrakeal dan tempatkan pasien pada ventilator mekanis.

    1. Anjurkan pernafasan dalam dengan penggunaan spirometri insentif setiap 2 jam selama tirah baring.
    2. Pertahankan posisi semi fowler, bila hipotensi tak ada.

    1. Untuk luka bakar sekitar torakal, beritahu dokter bila terjadi dispnea disertai dengan takipnea. Siapkan pasien untuk pembedahan eskarotomi sesuai pesanan.
    2. Suplemen oksigen meningkatkan jumlah oksigen yang tersedia untuk jaringan. Ventilasi mekanik diperlukan untuk pernafasan dukungan sampai pasie dapat dilakukan secara mandiri.


    1. Pernafasan dalam mengembangkan alveoli, menurunkan resiko atelektasis.

    1. Memudahkan ventilasi dengan menurunkan tekanan abdomen terhadap diafragma.
    2. Luka bakar sekitar torakal dapat membatasi ekspansi adda. Mengupas kulit (eskarotomi) memungkinkan ekspansi dada.
    Resiko infeksi berhubungan dengan Pertahanan primer tidak adekuat; kerusakan perlinduingan kulit; jaringan traumatik. Pertahanan sekunder tidak adekuat; penurunan Hb, penekanan respons inflamasi.

    Tujuan : Pasien bebas dari infeksi.
     Kriteria evaluasi: tak ada demam, pembentukan jaringan granulasi baik.
    1. Pantau: Penampilan luka bakar (area luka bakar, sisi donor dan status balutan di atas sisi tandur bial tandur kulit dilakukan) setiap 8 jam. Pantau: Suhu setiap 4 jam. Pantau: Jumlah makanan yang dikonsumsi setiap kali makan.
    2. Bersihkan area luka bakar setiap hari dan lepaskan jaringan nekrotik (debridemen) sesuai indikasi.
    3. Lepaskan krim lama dari luka sebelum pemberian krim baru. Gunakan sarung tangan steril dan beriakn krim antibiotika topikal yang diresepkan pada area luka bakar dengan ujung jari. Berikan krim secara menyeluruh di atas luka.
    4. Mulai rujukan pada ahli diet, beriakn protein tinggi, diet tinggi kalori. Berikan suplemen nutrisi seperti ensure atau sustacal dengan atau antara makan bila masukan makanan kurang dari 50%. Anjurkan NPT atau makanan enteral bial pasien tak dapat makan per oral.
    5. Mengidentifikasi indikasi-indikasi kemajuan atau penyimapngan dari hasil yang diharapkan.






    1. Pembersihan dan pelepasan jaringan nekrotik meningkatkan pembentukan granulasi.

    1. Antimikroba topikal membantu mencegah infeksi. Mengikuti prinsip aseptik melindungi pasien dari infeksi. Kulit yang gundul menjadi media yang baik untuk kultur pertumbuhan baketri


    1. Ahli diet adalah spesialis nutrisi yang dapat mengevaluasi paling baik status nutrisi pasien dan merencanakan diet untuk emmenuhi kebuuthan nutrisi penderita. Nutrisi adekuat memabntu penyembuhan luka dan memenuhi kebutuhan energi.
    Nyeri berhubungan dengan Kerusakan kulit/jaringan; pembentukan edema, manifulasi jaringan cidera.

    Tujuan :Pasien dapat mendemonstrasikan hilang dari ketidaknyamanan.
    Kriteria Hasil: menyangkal nyeri, melaporkan perasaan nyaman, ekspresi wajah dan postur tubuh rileks.
    1. Berikan anlgesik narkotik yang diresepkan prn dan sedikitnya 30 menit sebelum prosedur perawatan luka. Evaluasi keefektifannya. Anjurkan analgesik IV bila luka bakar luas.Pertahankan pintu kamar tertutup, tingkatkan suhu ruangan dan berikan selimut ekstra untuk memberikan kehangatan.
    2. Berikan ayunan di atas tempat tidur bila diperlukan.





    1. Bantu dengan pengubahan posisi setiap 2 jam bila diperlukan. Dapatkan bantuan tambahan sesuai kebutuhan, khususnya bila pasien tak dapat membantu membalikkan badan sendiri.
    2. Analgesik narkotik diperlukan utnuk memblok jaras nyeri dengan nyeri berat. Panas dan air hilang melalui jaringan luka bakar, menyebabkan hipoetrmia. Tindakan eksternal ini membantu menghemat kehilangan panas.





    1. Menururnkan neyri dengan mempertahankan berat badan jauh dari linen temapat tidur terhadap luka dan menuurnkan pemajanan ujung saraf pada aliran udara.
    2. Menghilangkan tekanan pada tonjolan tulang dependen. Dukungan adekuat pada luka bakar selama gerakan membantu meinimalkan ketidaknyamanan.
    Resiko tinggi kerusakan perfusi jaringan berhubungan dengan luka bakar melingkari ekstremitas atau luka bakar listrik dalam.


    Tujuan : Pasien menunjukkan sirkulasi tetap adekuat.
    Kriteria Hasil: warna kulit normal, menyangkal kebas dan kesemutan, nadi perifer dapat diraba.
    1. Pantau status neurovaskular dari ekstermitas setaip 2 jam.Pertahankan ekstermitas bengkak ditinggikan.



    1. Beritahu dokter dengan segera bila terjadi nadi berkurang, pengisian kapiler buruk, atau penurunan sensasi. Siapkan untuk pembedahan eskarotomi sesuai pesanan.
    2. Mengidentifikasi indikasi-indikasi kemajuan atau penyimpangan dari hasil yang diharapkan.Meningkatkan aliran balik vena dan menurunkan pembengkakan.
    3. Temuan-temuan ini menandakan keruskana sirkualsi distal. Dokter dapat mengkaji tekanan jaringan untuk emnentukan kebutuhan terhadap intervensi bedah. Eskarotomi (mengikis pada eskar) atau fasiotomi mungkin diperlukan untuk memperbaiki sirkulasi adekuat.
    Kerusakan integritas kulit berhubungan destruksi lapisan kulit.


    Tujuan : Memumjukkan regenerasi jaringan.
    Kriteria hasil: Mencapai penyembuhan tepat waktu pada area luka bakar.
    1. Kaji/catat ukuran, warna, kedalaman luka, perhatikan jaringan nekrotik dan kondisi sekitar luka.Lakukan perawatan luka bakar yang tepat dan tindakan kontrol infeksi.


    1. Pertahankan penutupan luka sesuai indikasi.







    1. Tinggikan area graft bila mungkin/tepat. Pertahankan posisi yang diinginkan dan imobilisasi area bila diindikasikan.



    1. Pertahankan balutan diatas area graft baru dan/atau sisi donor sesuai indikasi.
    2. Cuci sisi dengan sabun ringan, cuci, dan minyaki dengan krim, beberapa waktu dalam sehari, setelah balutan dilepas

    1. Memberikan informasi dasar tentang kebutuhan penanaman kulit dan kemungkinan petunjuk tentang sirkulasi pada aera graft.Menyiapkan jaringan untuk penanaman dan menurunkan resiko infeksi/kegagalan kulit.
    2. Kain nilon/membran silikon mengandung kolagen porcine peptida yang melekat pada permukaan luka sampai lepasnya atau mengelupas secara spontan kulit repitelisasi.
    3. Menurunkan pembengkakan /membatasi resiko pemisahan graft. Gerakan jaringan dibawah graft dapat mengubah posisi yang mempengaruhi penyembuhan optimal.
    4. Area mungkin ditutupi oleh bahan dengan permukaan tembus pandang tak reaktif.
    5. Kulit graft baru dan sisi donor yang sembuh memerlukan perawatan khusus untuk mempertahankan kelenturan.
    Gangguan citra tubuh (penampilan peran) berhubungan dengan krisis, kecacatan dan nyeri.


    Tujuan : pasien memiliki persepsi yang positif terhadap penampilan dan fungsi tubuh.

    Kriteria Hasil : pasien melaporkan kepuasan terhadap penampilan dan fungsi tubuh.
    1. Kaji dan dokumentasikan respons verbal dan non verbal pasien tentang tubuhnya.

    1. Kaji harapan pasien tentang gambaran tubuh.




    1. Dengarkan pasien dan keluarga secara aktif, dan akui realitas adanya perhatian terhadap perawatan, kemajuan dan prognosis.
    2. Berikan perawatan dengan cara yang tidak menghakimi, jaga privasi dan martabat pasien.
    3. Faktor yang mengidentifikasikan adanya gangguan persepsi pada citra tubuh.
    4. Mungkin realita saat ini berbeda dengan yang diharapkan pasien sehingga pasien tidak menyukai keadaan fisiknya.
    5. meningkatkan perasaan berarti, memudahkan saran koping, mengurangi kecemasan.


    1. Menciptakan suasana saling percaya, meningkatkan harga diri dan perasaan berarti dalam diri pasien


    4 Implementasi/Pelaksanaan Keperawatan Pada Pasien Luka Bakar

    Menurut Carpenito (2009. Hal 57). komponen implementasi dalam proses keperawatan mencakup penerapan ketrampilan yang diperlukan untuk mengimplentasikan intervensi keperawatan. Ketrampilan dan pengetahuan yang diperlukan untuk implementasi biasanya berfokus pada: Melakukan aktivitas untuk klien atau membantu klien. Melakukan pengkajian keperawatan untuk mengidentifikasi masalah baru atau memantau status masalah yang telah ada  Memberi pendidikan kesehatan untuk membantu klien mendapatkan pengetahuan yang baru tentang kesehatannya atau penatalaksanaan gangguan. Membantu klien membuat keptusan tentang layanan kesehatannya sendiri. Berkonsultasi dan membuat rujukan pada profesi kesehatan lainnya untuk mendapatkan pengarahan yang tepat. Memberi tindakan yang spesifik untuk menghilangkan, mengurangi, atau menyelesaikan masalah kesehatan. Membantu klien melakukan aktivitasnya sendiri. Membantu klien mengidentifikasi risiko atau masalah dan menggali pilihan yang tersedia.

    5 Evaluasi Keperawatan Pada Pasien Luka Bakar

    Menurut Asmadi  (2008. Hal 178) Evaluasi adalah tahap akhir dari proses keperawatan yang merupakan perbandingan yang sistematis dan terencana antara hasil akhir yang teramati dan tujuan atau kriteria hasil yang dibuat pada tahap perencanaan. Evaluasi dilakukan secara bersinambungan dengan melibatkan klien dan tenaga kesehatan lainnya.  Jika hasil evaluasi menunjukkan tercapainya tujuan dan criteria hasil, klien bisa keluar dari siklus proses keperawatan. Jika sebalinya, kajian ulang (reassessment). Secara umum, evaluasi ditunjukkan untuk :Melihat dan menilai kemampuan klien dalam mencapai tujuan. Menetukan apakah tujuan keperawatan telah tercapai atau belum. Mengkaji penyebab jika tujuan asuhan keperawatab belum tercapai.
    Sementara itu kriteria evaluasi yang diharapkan pada klien dengan luka bakar menurut (Wijaya (2013, hal. 122)  sebagaiman diagnosa keperawatan yang telah dirumuskan adalah sebagai berikut :
    1. Bunyi nafas vesikuler, Respiratory Rate dalam batas normal, bebas dispnoe/cyanosis
    2. Tak ada manifestasi dehidrasi, resolusi oedema, elektrolit serum dalam batas normal, haluaran urine di atas 30 ml/jam.
    3. Respiratory Rate 12-24 x/mnt, warna kulit normal, GDA dalam renatng normal, bunyi nafas bersih, tak ada kesulitan bernafas.
    4. Tak ada demam, pembentukan jaringan granulasi baik.
    5. Pasien menyangkal nyeri, melaporkan perasaan nyaman, ekspresi wajah dan postur tubuh rileks.
    6. warna kulit normal, menyangkal kebas dan kesemutan, nadi perifer dapat diraba.
    7. Mencapai penyembuhan tepat waktu pada area luka bakar.
    8. Pasien melaporkan kepuasan terhadap penampilan dan fungsi tubuh.

    Berlangganan update artikel terbaru via email:

    0 Response to "ASKEP LUKA BAKAR"

    Posting Komentar

    Iklan Atas Artikel

    Iklan Tengah Artikel 1

    Iklan Tengah Artikel 2

    Iklan Bawah Artikel